Hero

Undangan pernikahan ku sudah beredar dua hari yang lalu. Dan lusa akad nikah sekaligus resefsi pernikahan megahku akan digelar di sebuah hall yang menampung cukup banyak undangan. Pejabat, tokoh agama dan tokoh masyarakat, hanya sebagian kecil dari ribuan undangan yang akan menghadiri acara sacral yang aku harapkan hanya terjadi sekali seumur hidupku.

102014090_univ_lsr_lg

Alhamdulilah, terimakasih Tuhan, akhirnya aku menikah. Jodohku tergariskan takdir. Benarkah Aku yang mencipta takdirku sendiri? atau aku hanya bagian dari takdir yang sudah tertulis jauh bahkan sebelum aku dilahirkan.

Aku mengenalnya seminggu yang lalu, disebuah pulau mungil yang dikelilingi laut biru dengan pasir putih berkilauan tertempa cahaya matahari. Pertemuan pertamaku dengannya, di tempat sunyi tak padat manusia.

Aku rutin seminggu sekali ke pantai itu, sendiri hanya ditemani roda dua tanpa boncengan mengantarku hanya satu jam saja dari rumah, aku sudah berjumpa pemandangan laut biru tosca memantul pada mata. Nelayan pemancing sudah hafal wajahku, suara deru motorku juga dapat mereka kenal bahkan dari kejauhan.

Aku lebih suka sendiri, kesendirian merenungi kehidupan. Berbicara pada angin yang menabrak daun-daun cemara hijau. Berbincang pada bukit tinggi, pada ilalang yang mengangguk berzikir tertempa usia. Berkata pada bintang-bintang malam saat oranglain terlelap dalam mimpi indahnya.

Kesendirian sabtu itu seperti biasa aku habiskan dengan memandangi dalam laut dengan kacamata snorkelku, kutitip mio hitamku pada payung teduh pohon cemara. Tak ada kejahatan disitu, orang-orang pedesaan yang hidup susah, namun tak pernah faham makna bahagia dari mengambil milik oranglain. Aku suka berada dalam area mereka, malam yang tak berlistrik, kopi hangat dan kesederhanaan yang menghadirkan kebahagian. Betapa mudahnya hidup dalam mata mereka, cukup bisa makan satu hari saja sudah seperti surga dunia, walau lauk mereka bahkan hanya garam dan bayam yang tumbuh di halaman kecil di belakang rumah.

persembahan-cinta

Seperti sabtu lalu, sabtu itu aku masih nyaman sendiri, bermain dengan jutaaan ikan warna-warni dalam lautan, dengan taman terumbu karang nan indah, sungguh warna mereka jarang ku temukan pada benda berwarna di dunia penuh oksigen. Setelah jemari terasa kram dan menggigil oleh suhu yang menciut dalam lautan. aku bergegas mengganti pakain. T-shirt berlengan panjang dengan celana sedikit dibawah lutut. Kamera underwater yang cukup bagus juga untuk memindahkan gambar persegi empat sudut dunia. Ku pindahkan jejak-jejak kaki tak beralas pada pasir lembut, jejak yang tertinggal segera terhapus sapuan air laut. Hari masih sore, masih cukup lama untuk dapat menyaksikan matahari berubah warna dari kuning menjadi orange.

Pulau mungil diselatan Lombok, orang asli Lombok menyebutnya dengan Gili. Ada puluhan gili gili di Lombok, sebagian besar tak berpenghuni dan di biarkan alami untuk di nikmati. Lensa kamera sederhanaku terus mengambil beberapa objek yang kuharap abadi terekam pada segi empat kertas poto maupun layar laptop. Sampai pada akhirnya aku menemukan wanita itu. Wanita yang pada akhirnya menjadi nama yang bersanding dengan namaku pada sampul undangan pernikahan.

Aku menemukanya saat ia melihat laut dan langit yang bersatu pada garis horizontal, pandangan matanya kosong. Tak sadar ia, saat aku memperhatikannya dari kejahuan, lalu aku berani mendekat terus merapat ke arahnya. Ia masih dalam pose patung, diam tanpa gerakan, hanya kelopak matanya yang merekat cepat , dan mata itu mengalirkan bulir bening air mata.

Unik, karena setelah sekian lama mendatangi Gili itu, baru kali ini aku menemukan mahluk sebangsa ku disana. Biasanya hanya kepiting kecil yang berlari miring kesamping dan menghilang pada lubang gelap pada pasir. Atau burung laut yang berkumpul di tengah ombak berlomba mendapatkan ikan yang melompat-lompat bersama angin.

 

“Apa anda baik-baik saja?? sapaku pelan agar tak mengagetkannya. Tapi malang, ia justru kaget dan berusaha menyembunyikan airmatanya pada pose menunduk..

Matanya masih berkaca-kaca saat menatapku.. ia berusaha tersenyum dengan mata berair. “saya gak apa-apa kok. Singkat dan diam kembali.

“Mbak dari mana?? Rumahnya maksud saya? Aku berusaha seramah mungkin padanya

Tapi dia tak menjawab, tetap diam, kini hanya matanya berbicara kepadaku, mata sembab penuh kelelahan, mata yang seolah-olah berkata bahwa kesedihan telah resisten menyakitinya.

“maaf mbak, bukannya saya mau ikut campur, tapi apa tidak sebaiknya mbak pulang saja, sebentar lagi magrib, sepertinya mbak berasal dari kota, saya hanya khawatir perjalanan malam yang kurang aman untuk wanita..

Ia masih mematung, satu bulir airmatanya bergelinding lagi, airmata yang bermuara pada dagu lancipnya.

Lalu tiba-tiba dengan lacurnya ia berkata “mas mau gak nikah dengan saya?

“Aku kaget luar biasa, aku langsung berfikir wanita yang kuhadapi kini berkelainan mental, semacam sakit jiwa yang membutuhkan bantuan psikolog dan obat-obatan. Tapi kalimat yang kemudian meluncur dari getaran bibir mungilnya membuatku beku dan menukar pose dengannya, aku mematung dan giliran dia yang berperan sebagai subjek.

 

“Aku sudah mencoba bunuh diri, menegak racun serangga untuk mengakhiri hidupku, tapi sial aku tak mati, dokter sialan itu berhasil menyelamatkanku, dia juga yang kemudian membuat kelurgaku tau kalo aku sedang mengandung 5 bulan. Bodohnya aku membirkan laki-laki biadab itu mengabisi kehormatanku, aku tau itu nikmat, namun setiap kali aku menyesal iblis dalam diri ini selalu menagih kenikmatan dosa itu, ku ulangi lagi dosaku hingga rahimku membengkak dan Haid enggan melindungiku dari semua ini. Hal yang paling ku tangisi dari semuanya ketika ku minta laki-laki bajingan itu menikahiku ia justru mencampakanku dan memilih menikah dengan wanita lain yang bernasib sama denganku.

 

“Aku habis, keluargaku seolah mengganggap aku na’jis yang mengotori rumah, jadi kau tak perlu khawatir menyuruhku pulang. Hidup atau mati bukanlah dua hal yang berbeda buatku kini. Bahkan jika boleh memilih aku lebih baik mati saja.

 

Wanita itu terus saja menghujaniku dengan kisah pilunya.. Aku tak percaya dengan apa yang kudengar, kata-kata itu sepertinya memang pernah ku dengar tapi itu hanya dalam sinetron stripping. Tak pernah senyata ini, ku fikir dunia tak seburuk scenario TV. oh Tuhan, dunia ini meniru kisah-kisah dalam Film.

Aku tak mengemis padamu, tapi aku mohon, selamatkan aku, aku ingin punya kesempatan memperbaiki kehidupanku, aku tak tau harus bagaimana lagi. Tolonglah.

Aku seperti terhipnotis bibirnya. Dengan polos aku mengangguk begitu saja.

“Ayoo aku antar kau pulang, aku ingin melamarmu di depan kedua orangtuamu, sekarang”.

 

Mungkin aku gila, atau memang dalam pengaruh ilmu hipnotisnya. Namun nyatanya, aku memantapkan hati berbicara kepada kedua orangtuanya. Bahkan sampai saat itu, aku belum mengenal nama calon istriku, yang ku tau aku harus menyelematkan dua nyawa. Masalah cinta, itu nanti saja, seperti kata banyak orangtua, cinta akan hadir seiring kebersamaan. Aku harap mereka berkata tidak berbohong tentang itu.

 

Ya aku tau di dalam Agama yang ku yakini hukum menikahi wanita hamil adalah Haram. Ia harus melahirkan dulu baru ia halal untuk di nikahi. Tapi dunia ini sering kali berpura pura benar. Banyak wanita dari keluarga terhormat berpura pura tidak tau anak wanitanya hamil di luar nikah, dan dengan polos menikahkan anak gadisnya hanya demi menjaga kehormatan keluarga. Kenapa saat pacaran dulu saja mereka mencegahnya. Tapi banyak keluarga keluarga yang seolah memaklumi anak gadisnya di bawa pergi oleh mobil mewah dengan alasan trend anak muda. Namun begitu anak gadisnya pulang dengan perut buncit, mereka melaknat anak anak mereka. Kemana sebenarnya akal manusia?

 

Nyaliku, sempat ciut, saat tiba di depan rumahnya. Ku sangka ia dari keluarga biasa-biasa saja dengan lingkungan kebanyakan. Orangtuanya ternyata salahsatu orang terpandang , rumahnya megah dengan taman bunga dan halalam rumput luas.

 

Aku tau apa yang harus ku katakana pada orangtuanya, walau mungkin aku sedkkit berbohong, ku katakan aku mencintai putrinya, aku katakan aku telah bersahabat dengan putrinya sejak Sekolah menengah pertama. Aku tau kondisi memprihatikannya, dan aku siap bertanggungjawab mejadi ayah dari benih laki-laki lain.

Dan kedua orangtua itu memang sepertinya memang tak memiliki banyak stock laki-laki yang bersedia menikahi putrinya, maka tanpa panjang lebar, mereka langsung mengangguk setuju. “Makin cepat makin bagus, sebelum perutnya membesar, begitu kata mereka.

 

Orangtuaku sempat terkejut dengan rencana menikah itu. Namun akhirnya mereka menerima keputusanku, tentu saja dengan tidak mengatakan bahwa calon istriku hamil oleh laki-laki lain. Kebodohan yang tak akan ku ceritakan pada siapapun. Termasuk kepada seseroang yang menungguku 4 tahun untukku lamar.

 

Yaahhh,, aku memang sedang mencintai seseorang wanita yang juga sangat mencintaiku, kami memang tidak pacaran, tapi aku pastikan akan sangat cemburu jika ada laki-laki lain yang membahagiakannya, begitu juga ia, akan sangat terluka jika mendengar kabar bahwa aku akan menikah dan itu bukan denganya. Betapa teganya aku, melewati 4 tahun kisahku bersamanya hanya dengan wanita yang ku kenal beberapa menit saja.

61503-contoh-undangan-pernikahan-vintage-094909

 

Dan kini aku mulai galau.

Entah apa karena rasa ibaku pada wanita itu yang mulai memudar, atau karena jiwa sok pahlawanku yang kini berubah menjadi penyesalan. Sungguh dengan sebenarnya, aku tuliskan menyesal, tapi apa daya undangaku telah tersebar luas. Sms dan notification di jejaring sosialku ramai dengan ucapan selamat menempuh hidup baru. Termasuk dari Aira, wanita yang membuat hpku setiap hari bersuara oleh pesan maupun telfonnya. Ada gerimis pada korneaku membaca pesan yang ia kirim.

 

Tak ada kebencian dari ungkapannya, lebih rasa ikhlasnya, hanya ucapan selamat, semoga bahagia. Itu saja. Tapi ucapannya itu justru melukaiku, aku tau ia terluka dengan semua ini. Aku masih menyayanginya, masih seperti 4 tahun dulu, ketika aku mengatakan ingin menjadi suaminya, ingin menjadi ayah dari anak-anaknya, tidak menjadi pacarnya, aku ragu dengan ikatan itu, aku ragu cintaku padanya hanya akan menjadi alibi kami untuk menghalalkan apa yang sepantasnya di bolehkan setelah menikah. Dan kini aku sedang menjadi protagonist pada efek samping nafsu berlindung dalam kata cinta itu. Zina dan hamil sebelum ijab Kabul. Maafkan aku Aira.

 

Raisa,

itu nama wanita yang akan kunikahi lusa. Ia menelfonku setiap malam sebelum tidur, ia sering menyakinkanku, bahwa keputusanku menikahinya bukan karena keterpaksaan, masih ada waktu untuk membatalkan semuanya begitu usulnya, tapi aku memastikan bahwa menikahinya bukanlah sebuah kebodohan. Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku akan belajar mencintainya. Ku pastikan aku akan mencintainya seiring kebersamaan dan waktu-waktu yang akan kami habiskan, ku yakinkan bahwa aku akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya, ku tegasakan bahwa aku akan menjadi iman yang tartil untuknya, membimbingnya menjadi wanita,istri dan ibu yang sholeha. Dan sungguh saat itu aku berdusta, karena jujur aku tak merasakan apa-apa saat bersamanya, aku tak merasakan bahagia seperti yang ku temukan ketika menghadapi Aira. Ataukah jiwa cinta kepada harta membuatku berencana lain, mendapatkan fasilitas dan kemewahan yang dimiliki kelurga Raisa. Setelah menikahinya nanti. ohh lelaki.. kau ternyata sama saja dengan lelaki kebanyakan..

 

Entahlah, apakah semuanya akan menjadi lebih baik setelah lusa terlewatkan. Entahlah, apakah hipotesa tentang theorema cinta yang hadir sejalan dengan waktu dan kebersamaan akan terbukti pada praktek yang akan kujalani berbulan semoga mencapai tahun.

 

Aku harap aku akan mencintainya kelak, hingga jiwa pahlawan yang ku niatkan diawal ketika menerima ajakan menikahinya terkikis oleh rasa kebahagianku setiap kali berdiri didepannya, memimpin sholat berjamaah. Aku harap Tuhan meniupkan cintaku kepada anaknya, hingga aku tak pernah mengingat bahwa itu bukan hasil karyaku, hingga aku merasa ia benar-benar anak kandungku.

 

Aku harap Aira menemukan laki-laki yang lebih luarbiasa dariku. Menyayanginya melebihi sayang yang kujanjikan padanya dulu ketika kami masih bersama.

Benarkah hidup itu pilihan atau hanya serangkain takdir yang kita jalani saja.

Benar, bahwa wanita baik-baik pasti akan mendapatkan pasangan yang baik-baik, sementara laki-laki keji akan diberikan kepada wanita yang keji pula. Akulah laki-laki keji itu yang pada ujungnya menikahi wanita keji. Tapi hidup masih terus berjalan, masih ada waktu untuk merubah kesalahan pada hidupku berakhir indah. Raisa wanita yang baik-baik, yang pastinya akan bersama laki-laki yang baik. Dan ku pastikan aku adalah laki-laki yang baik itu.

Tuhan, ku tunaikan ibadahku atau mungkin ini dosa kepadaMU, aku bukan pahlawan, aku hanya lelaki yang berharap bisa menjadi pahlawn dengan menyelamatkan dua nyawa sekaligus bahkan itu dengan jalan dosa. Tuhan, aku mohon jangan membuatku meratapi semua keputusanku ini..

Bismillah.

Gili, Mei 2013

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s