Menulis itu Ibadah.

Sabtu 10 september lalu saya menghadiri undangan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi NTB sebagai peserta dalam temu Blogger Lombok-Sumbawa.

Kegiatan di prakarsai oleh sahabat saya dan di apresiasi oleh Pemerintah dengan di lakukannya pertemuan workshop Kepenulisan yang mengundang narasumber Bloger terkuma dari Makasar Bang Yusron dengan bloger terkenalnya Angin-timur.com

t
Saya masih terlau muda utk berhenti menulis

Menurut saya kegiatan tersebut adalah bentuk keterbukaan strategi marketing bagi Pemerintah yang harus mengetahui kemana pasar bergerak. Pemerintah jangan melulu melakukan strategi yang kaku dan stagnan. Dimana kegaiatan di DPA mereka begitu-begitu saja setiap tahun, berulang tanpa evaluasi hasil yang jelas sudah sejauh mana project dari penggunaaan uang negara tersebut berdampak bagi masyarakat.

yu
seberapa ada kita disana ? seberapa penting orang bicara bagi kita?

Menggandeng para bloger, penulis di social media harusnya di lakukan sejak lama oleh pemerintah. Bloger yang menjadikan menulis sebagai hoby yang menyenangkan tak terinterpensi oleh kepentingan kepentingan tertentu entah politis atau uang.  Menulis itu melegagakan, menulis menyenangkan, menulis itu mengabadikan waktu.

Namun sering kali idealisme menulis lenyap seiring godaan uang, kepopuleran hingga pujian. Berhenti menulis jika tak ada yang mengatakan tulisanmu kerenn bagus, Tak mau menulis lagi jika tulisan itu tidak menghasilkan uang, atau sesuatu yang terlihat berharga di mata.

Saya pribadi dalam menulis selalu berusaha kembali ke pakem Dasar dimana tujuan manusia di ciptakan yakni untuk beribadah kepada Alloh swt. Ritual beribadah itu implementasinya banyak sekali caranya. Tak sekedar sholat, tak sekedar puasa, tak cukup dengan berhaji, tetapi beribadah dari setiap aktivitas hidup yang saya jalankan.

Mandi itu ibadah. Di awali degan niat dan doanya mandi versi bahasa Arab, kalo di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mandi di niatkan untuk bersuci, bersih agar bisa beribadah kepada Alloh swt. Ibadah ritual semacam sholat, membaca Al-Quran di mulai dari bersuci. Kesucian sebagian dari pada iman. Niat awal bersuci karena Alloh, bonusnya kita menjadi tampan, wangi, di puji keren itu nomor dua dan tiga saja 😀

12592250_1067551326641083_6223951747863400285_n
Kau bagian yang mana kawan?

Termasuk menulis. Menulis itu beribadah. Saya pernah di kirimkan sebuah meme komik islam Muslim Show, disana  tampak 4 orang penulis yang berbeda beda kepentingan.

Wartawan menulis berharap pembaca senang, beritanya keren,
Musisi berharap penggemar suka tulisanya
Politikus berharap rakyat memilihnya
Penulis Buku cerita berharapa bukunya laris di beli banyak orang, best seller, royalty banyak.
Sementara Alim ulama menulis berharap Alloh swt meridhoi.

Kita berada di golongan yang mana?

Sebenarnya Tidak masalah menulis untuk mendapatkan uang, promosi produk, kepopuleran, materi. Tapi luruskan dulu niat menulis untuk beribadah kepada Alloh swt. Kalo sudah Alloh tujuannya yang lainya mengikuti, uang, kepopuleran, produk yang laris hingga tanda Like 😀 . Yang ingin saya katakana disini bahwa menulis itu primernya untuk ibadah, uang, pujian biarlah menjadi sekunder bahkan tersier.

te
Yusron Darmawan menyampaikan materinya

Balik ke workshop kepenulisan.
Bang Yusron sangat detail dan berpengalaman dalam dunia kepenulisan, karya dan prestasinya sangat menjawab alasan kenapa beliau yang di undang untuk berbicara di depan 50 orang bloger di ruangan itu. kemampuannya mengugah dan mengajak saya untuk ayo menulis lagi, membuat saya berfikir bahwa saya masih terlalu muda untuk berhenti menulis, saya harus mulai serius mewujudkan untuk membukukan tulisan tulisan saya yang sudah terencana lama dan membeku dalam buku buku harian di lemari tua di rumah orangtua saya.

Permasalahan utama bagi saya seorang  bapak rumah tangga nyambil PNS terletak dari bagaimana mengatur waktu antara menjadi suami, menjadi seorang bapak rumah tangga dan pekerja kantoran. Bagi saya menjadi suami dan ayah adalah pekerjaan sesungguhnya, PNS itu sambilan, sementara menulis adalah hobby, hobby yang saya lakukan jauhhh waktu, semenjak tahun 1996, 20 tahun silam. Buku buku harian masih tersimpan di lemari kayu dan saya tersenyum  setiap membaca kembali buku harian saya di lemari kayu rumah orangtua saya.

Menulis haruslah saya berikan prioritas waktu di hidup ini. jadwal hidup saya betul-betul rutin setiap hari, dari pagi hingga sore saya di kantor, pulang kerja mengajak anak bermain hingga magrib, lalu saya ke masjdi, membaca Al-Quran hingga isya, mendengarkan istri tentang hari yang ia lalui sambil makan malam bersamanya. Jam 22.00 rasa letih dan kantuk meminta saya untuk tidur. Kadang kala ide ide dan mood menulis tersublin oleh keterbatasan waktu, letih dan malasnya mengidupkan laptop yang telah senyap.

Well setelah workshop itu saya berjumpa dengan banyak orang orang brilliant di bidan kepenulisan. Sudut pandang mereka, pengalaman mereka memperkaya ide dan apa yang harus saya lakukan setelah keluar dari ruang hotel itu.  Walau singkat, saya kira saya harus benar benar berada di sana. Tidak hanya raga tetapi hati dan fikiran saya. karena saya merasakan dan melihat sendiri betapa banyak orang tidak serius mengikuti, mendengarkan dan menghargai orang yang sedang berbicara dengannya.

122584470_LearningEssentials_616x418_tcm21-12125.png
Menulis haruslah di niatkan utamanya utk beribadah

Saat memutuskan datang ke undangan itu, saya telah mencetak undanganya, memasukan dalam name tag yang say buat sendiri, saya mulai dengan bismilah saat masuk ruangan itu, lalu mematikan gadget saya. Saya ingin benar benar focus dan berada di ruangan itu, menghargai siapa yang berbicara dengan saya, menunjukan bahwa jauh jauh kedatangannya ke Lombok benar-benar di harapkan orang yang mengundangnya. Walau tak banyak orang di dalam ruang itu tak benar benar mampu meninggalkan media social, hp dan perubahan dunia di luar ruangan itu.

Mereka tampak menunduk pada gadget, raganya di sana tapi hati dan fikirannya tak memperhatikan apa yang sedang di ucapkan bang Yusron dan mbak Jhe dua pemateri penuh semangat menyampaikan pentingnya komunikasi dan media mempromosikan Lombok- Sumbawa sebagai destinasi wisata.

Link Video Look Up subtitle Indonsia.

Saya teringat pada sebuah video di Youtube berjudul Look Up. Kawan-kawan juga bisa meng-gonglingnya. Video itu menghajar keras wajah saya untuk melepas gadget saya, berhentilah menunduk pada hp, tinggalkan dunia palsu dan focuslah pada dunia yg lebih nyata di sekitarmu.

Kendala terlalu asik dengan dunia social ini akan terus menerus hadir di antara kita seiring tehnologi yang makin menggiring manusia untuk lebih menyukai kepalsuan daripada kenyataan. Lebih suka bermimpi dari pada bangun dan berbuat nyata.

si
Saya merumuskan tulisan ini sebelum keluar dari workshop Bloger itu yang saya serahkan kepada istri saya

Bagi saya datang ke undangan bloger itu adalah traveling sesunguhnya yang saya butuhkan. Saya rela melepas jadwal berburu ikan di dalam laut di hari sabtu saya untuk datang ke sana. Rela tak makan ikan segar hasil tangkapan siang itu.  Karena traveling bagi saya bukan tempat tapi orang.” Travel is people not place”.  Bagaimana menghargai orang yang sedang bicara dengan kita, antusias terlibat dalam pembicaraan mereka, mengenal dan belajar lagi dari daya fikir mereka, silaturahmi nyata yang di awali dari perkenalan di media maya.

Saya memutuskan banyak hal setelah sholat zuhur selesai season yang di sampaikan bang Yusron. Pertama tentang pembagian waktu hidup saya agar lebih priotitas untuk mulai sering menulis  di tengah peran saya sebagai bapak seorang rumah tangga, kedua menyingkirkan Game Play station di depan TV yang membuang banyak waktu aktif saya, lalu membuat jadwal menulis tetap selepas sholat subuh sebelum berangkat bekerja, dan mengaktifkan lagi klausal Time without Gadget yang saya tanda tangani bersama istri namun terbengkalai karena saya sering melanggar kesepakatan kami. Sejak jam magrib hingga menjelang tidur saya pastikan raga dan fikiran saya menyatu untuk focus pada orang-orang nyata di sekitar saya. istri, anak, tetangga, orang yang mengharapkan saya focus menghargai mereka.

Terimakasih ilmunya, siapaun yang menginspirasi saya di ruang hotel dari pagi hingga ashar itu.

Iklan

2 pemikiran pada “Menulis itu Ibadah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s